No right-clicking please! (:
Please ask instead! :D

Disclaimer
Rules & Regulations
Sebelum Baca Postingan, Harap Perhatiin Ini Yaaaaaa....

Welcome to Kantung Ajaibku.
Hush & Listen up!

You're not allowed to:-
-Copy, Rip, Spam, Steal & more...!

If you hate me, kindly click the red 'x' button on the top-righthand corner of the screen.
If you love me, please stay to enjoy. :D

Remember to tag me before leaving.
Showing only Number posts.
Other than that, enjoy yourself! :D




Blog
Sabtu, Juni 06, 2009; 7:50 PM
Setelah Masa Hiatus

Hallo semuane piye kabare? Apik-apik wae tho? Sepuroku yen akhir-akhir ini gue jarang nulis nang blog maneh. Yo iku, gue gak duwe waktu longgar akeh. Dadine yo…blog e terabaikan koyo ngene. Gak keroso y owes meh sesasi gak ngeblog, kangeeeeeen rasae….

Krik…krik…krik….

Indonesian language MODE ON!

Buat yang nggak ngerti arti tulisan diatas, nggak usah ngebela-belain bawa kamus bahasa Jawa untuk ngartiin. Karena ini semua memang akibat dari penyakit kemarin, gue jadi insomnia, eh, maksudnya yang lupa ingatan itu lho. Alzhaimer ya kalo gak salah? Ya…pokoknya maksudnya itu deh.

Tapi nggak seluruhnya akibat penyakit kemarin sih (nggak sungguhan kena alzhaimer kok, cuma another head disease yang agak mengerikan memang), sebenarnya sudah lebih dari semingguan ini gue pindah ke Ponorogo. Dan kayaknya gue bakalan stay di sini lebih dari satu bulan untuk masa recovery. Soalnya kata dokternya, udara di Ponorogo lebih bersih juga interaksi untuk mata juga lebih alami (karena yang diliatin cuma gunung-gunung di kejauhan dan semilir angin berhembus!) daripada kalau di Surabaya pasti gue selalu pengen jalan-jalan ke Mall yang menambah parah penyakit gue. Selain itu, di Surabaya nggak ada orang yang bisa ngejagain, ngejagain dalam arti ngerawat maksudnya. Makanya, hari H dimana aku kena serangan head attack itu, nyokap langsung datang dari Ponorogo dan ngeboyong aku kesini.

Lama tinggi kepisah dari orang tua terus tau-tau hidup serumah lagi rasanya seperti kembali ke masa lalu. I mean, gue jadi ngerasa masih SD dimana setiap bangun tidur selalu dibangunin nyokap, lalu setelah mandi selalu ada sarapan di meja makan, terus waktu nyokap mau pulang dari kantor selalu nelepon dan nanyain: “Dek, Mama mau pulang kantor nih. Nitip dibeliin apa? Bistik sapi mau?”, lalu yang paling membuat gue kembali ke masa-masa SD adalah kebiasaan nyokap yang selalu menyuruh semua anak-anaknya memakai piyama saat akan berangkat tidur.

Semua kebiasaan itu kembali lagi di kehidupan gue yang sekarang berumur 22 tahun. Kebayang nggak sih? Gue jadi ngerasa kalau keadaan sekarang berputar ulang, seolah gue bener-bener masih 12 tahun walaupun terbungkus tubuh berusia 22 tahun. Dan mau nggak mau itu membuat gue terlena lagi dan bersikap seolah masih berumur 12 tahun. Akibatnya bobot tubuh gue naik 4 kilo selama seminggu ini. Ini memang fenomena aneh karena justru kalau gue lagi sakit, bobot badan gue malah nambah. Alasannya karena nafsu makan gue selalu bertambah waktu sakit ditunjang dengan aksi nyokap yang menyuguhkan berbagai makanan enak-enak yang tak kuasa dibendung air liur gue untuk mencicipi (diet gue bener-bener gagal!).

Lalu bagaimana dengan pekerjaan gue kalau gue harus stay di Ponorogo untuk satu bulan lebih?

Alhamdulilah, semuanya seakan sudah diatur sedemikian rupa. Gue kena head attack dua hari setelah masa kontrak gue dengan sebuah kantor auditor berakhir (kata dokter mungkin penyakit gue ini juga timbul akibat gue kelelahan bekerja). Jadinya gue bisa istirahat di sini tanpa tanggungan kerja audit walaupun ada dua kerjaan yang mesti gue bawa kesini karena kerjaannya memang mobile. Salah satunya adalah membuat jurnal ilmiah.

Tenang, kalian nggak salah baca kok. Gue memang sedang ada proyek membuat sebuah jurnal ilmiah bersama sebuah penerbit (kedengerannya nggak mungkin ya untuk seorang yang berotak panda membuat jurnal ilmiah. Hwakakakakak). Mungkin penerbitnya juga khilaf. Mungkin mereka begitu tertipu dengan isi skripsi gue sampai-sampai ingin menerbitkannya dalam versi jurnal ilmiah. Tapi lumayanlah, daripada bengong di rumah nggak ada kerjaan. Apalagi membuat jurnal ilmiahnya sendiri juga relatif lebih mudah daripada harus menulis buku karena jurnal ini ditulis berdasarkan hasil skripsi gue. Senangnya lagi, tiga hari yang lalu, gue sudah berhasil membuat draft pertamanya dan sekarang lagi diedit sama editornya. Huhuhu…semoga aja revisinya nggak banyak.

Makanya, buat junior-junior gue, gue punya saran nih untuk yang mau nulis skripsi: Jangan nulis skripsi hanya sebagai alat untuk kelulusan tapi buatlah skripsi yang bisa bermanfaat untuk masyarakat, jadinya tenaga kita untuk berpikir nggak percuma karena pada akhirnya hasil skripsi kita bisa diterapkan atau seenggaknya menjadi wacana mendidik bagi masyarakat. Walaupun memang agak berat jika dibandingin dengan skripsi yang “asal lulus”, tapi percaya deh kalau skripsi ada “isinya” pasti cepat atau lambat akan ada feedback value-nya.

Kok kata-kata gue berubah jadi pinter begini ya? Mungkin itu tadi yang barusan ngomong adalah “kepribadian gue yang pintar”. Hwakakakak…

Ngomong-ngomong soal kepribadian ganda, naskah buku kedua gue (yang untuk sementara berjudul The Thieves), mengalami banyak sekali pengalaman unik yang lebih banyak daripada buku pertama gue yang dulu. Kadang-kadang gue mikir, ini buku belum diterbitin tapi kok udah menarik minat beberapa kalangan yang udah gue kasih baca draft finalnya. Apalagi beberapa waktu yang lalu naskah ini sempat diperebutkan oleh dua penerbit di Surabaya (asli, mereka sampai gontok-gontokan gitu) hanya karena ingin mendapatkan kontrak dengan naskah ini.

Bukannya menyombongkan naskah buku kedua gue ini tapi jujur, gue sendiri ngefans banget sama naskah ini. Belum pernah gue membaca ulang hasil tulisan yang gue tulis sendiri lalu mengaguminya sambil berguman: “Gue makan apa ya? Kok bisa nulis secanggih ini?”

Padahal naskah ini bisa dibilang ajaib karena gue nulis naskah ini pada akhir tahun 2008 lalu dalam waktu empat hari saja. Saat semua keluarga gue tengah liburan tahun baruan di Bali, gue terpaksa harus jaga benteng karena Yongki dan Riska nggak bisa ikut dan gue dikaryakan sebagai sitter-nya mereka! Makanya saat itu gue ngeluangin waktu iseng-iseng untuk nulis naskah baru. Eeeeeh…ternyata jadi naskah ajaib kayak gini.

Tapi gue yakin, walaupun harus beberapa kali dihadang masalah karena naskah ini memang tipenya agak brutal dan psyco, pasti pada waktu yang tepat dia akan mendapatkan penerbit yang layak. Hahahaha…

Well, sepertinya kepala gue sudah mulai pusing lagi. Sebenernya gue nggak dibolehin terlalu lama mantengin layar laptop (malahan aslinya gue belum boleh nonton tivi apalagi mainan laptop karena mata gue nggak boleh berintekasi dengan hal-hal tersebut) tapi mau gimana lagi, gue kangen nulis di blog. Huhuhu…

Oh iya, ada satu lagi, YM gue di-hack orang gila entah siapa, mungkin ini karena gue sering pakai BB buat YM-an (emang riskan ya kalau YM-an pakai BB?). Jadi buat para temen-temen yang dulu contact-nya ada di contact list YM gue yang lama dan dikirimin spam yang ngakunya dari YM gue, itu bukan gue! Dan sekarang YM gue ganti ke: aluna.soenarto

Tolong add gue lagi ya, soalnya gue nggak apal alamat-alamat YM kalian. Thanks…

Senin, Mei 11, 2009; 1:37 PM
Sinetron Di Indonesia

Gue rasa sinetron-sinetron yang sekarang pada seliweran di tivi lokal semakin lama semakin mengalami penurunan kualitas. Beda banget sama sinetron jaman dulu seperti Si Doel Anak Sekolahan yang memiliki nilai moral yang tinggi dalam penyampaian pesan pada penonton.

Nah, kalau sinetron jaman sekarang sih yang diandelin cuma tampang aktor sama aktrisnya doang yang tinggi tapi nggak ada pesan yang disampaikan pada penonton. Intinya, sinetron jaman sekarang itu bener-bener wasting time banget. Tapi anehnya, pada jam-jam penayangan sinetron (mulai jam 18.00 sampai jam 21.00) justru banyak masyarakat yang pada duduk menikmati acara televisi ini (makanya rakyat makin bego karena yang ditonton cuma adegan nangis-nangisan karena ibu mertua selalu menindas anak menantu).


Masih ada hubungannya dengan sinetron, kemarin sore, waktu gue habis mandi dan siap-siap ngetik buat artikel di majalah, tiba-tiba gue ngerasa haus, makanya gue turun ke bawah dan niat ngambil air di dapur. Waktu ngelewatin ruang tivi, gue denger ada suara orang sesenggukan. Gue celingukan. Toleh kanan, toleh kiri.


Ternyata ada orang nangis. Mbak Lusi, sitternya Riska, lagi nangis sesenggukan di depan tivi. Gue pun mikir, kenapa nih orang? Apa gajiannya telat lagi ampe nangis kayak gini? Atau jangan-jangan dia baru diputusin pacarnya (pacarnya Mbak Lusi tuh satpam komplek. Hahaha)?


Dugaan gue salah!! Ternyata Mbak Lusi nangis bukan karena telat gajian atau diputusin pacarnya itu. Tapi karena nonton sinetron NIKITA di tivi. Pas itu Nikitanya gak boleh ketemu sama Mas Doni sehabis mendonorkan ginjalnya (gak tau deh ceritanya, seinget gue sih gitu)

GABRUK!

Sumpah! Gak mutu banget!

Karena penasaran akan cerita sinetron Nikita ini, sampai-sampai Mbak Lusi nangis sesenggukan seperti ini, gue pun ikutan nonton. Hasilnya, gue bingung…

Bukan bingung seperti nonton Slumdog kapan hari itu, tapi bingung karena sinetron ini tuh nggak realistis banget dan terkesan mengada-ada.



Sinetron Nikita

Contohnya nih: dalam hal mendonorkan anggota tubuh, biasanya informasi sang pendonor dan penerima akan dijaga ketat oleh pihak rumah sakit. Nggak ada yang namanya dokter ngumbar rahasia identitas sang pendonor kepada sang penerima. Informasi seperti itu pasti dirahasiakan. Palingan cuma dikasih tau umur dan jenis kelamin. Tapi di sinetron ini, dokternya dengan gamblang ngejelasin siapa sang pendonor, yaitu Nikita ke orang tuanya Mas Doni.


Krik…krik…krik…(suara jangkrik mengerik).


Lalu, ada lagi yang jadi bahan ketawaan aku. Di sinetron ini diceritain profesi Mas Doni adalah seorang dokter. Tapi…..dalam perjalanannya, dari awal sinetron ini ditayangkan sampai detik ini, nggak ada tuh adegan yang menampilkan Mas Doni lagi ngoperasi seseorang atau paling enggak memeriksa pasien. Yang ada malah adegan Mas Doni lagi ngeliatin Nikita ngepel di rumah sakit. Can you imagine that?


Dia adalah seorang dokter, tapi kenapa yang dilakukan dirumah sakit hanya nguber-nguber Nikita yang seorang tukang ngepel dan ngeliatin tuh cewek lamaaaaa banget. Terus, kapan dong dia melaksanakan tugasnya sebagai dokter?


Kalau gitu sih, sebaiknya kerjaan Mas Doni diganti aja, jangan dokter, tapi supervisor cleaning service. Nah, kalau gitu kan cocok. Kerjanya sehariaaaaan ngawasin pegawainya.

Sebenernya sih gue nggak mengharapkan muluk-muluk, seperti sinetron kita sama kualitasnya dengan serial-serial yang ada di luar negeri. Gue juga nggak bilang kalau kita nggak bisa bikin tayangan yang berkualitas. Mungkin saat ini memang tayangan yang berkualitas belum banyak ditayangkan karena kembali lagi pada selera masyarakat. Dalam hal ini taraf pendidikan pun menentukan.

Pangsa pasar dari sinetron seperti ini adalah ibu-ibu rumah tangga. Dan kenapa sinetron Indonesia dikemas dengan sangat simpel? Itu karena masyarakat tidak mau repot-repot berpikir untuk mencerna pesan moral yang ada di dalamnya. Maka jadilah tayangan yang kurang berbobot.

Saran gue adalah menghimbau para sinetron maker supaya membuat karya mereka lebih berkualitas. Tidak harus setara ER atau CSI. Tapi setidaknya berilah pengetahuan atau informasi yang mendidik pada karya-karyanya. Contoh simpel, mungkin kedepannya Mas Doni tidak hanya duduk saja sambil mengawasi Nikita ngepel, tapi juga sibuk menangani wabah flu Singapura yang sekarang merebak di Indonesia (terutama Depok). Lalu adegan yang ditampilkan tidak harus seribet di ER tapi bisa ditampilkan adegan dimana Mas Doni sedang memeriksa pasien lalu menemukan symptom-symptomnya, kemudian menangani penyembuhannya (misalkan menyuruh perawat menyiapkan obat-obatan dan alat-alat yang diperlukan, jangan lupa sebutin obat-obatannya apa aja).

Mungkin dengan begitu, para ibu-ibu rumah tangga bisa melihat cara seorang dokter dalam menangani pasien seperti apa dan menambah pengetahuan tentang cara-cara menangani flu Singapura.

Gimana? Kedengeran lebih berbobot kan? Jadi sambil nonton sinetron, sambil belajar juga. Karena cukup telenovela saja yang menampilkan adegan ibu mertua menindas anak menantu!


Selasa, April 07, 2009; 8:50 PM
Kura-Kura, Buah Naga, dan Buah Cinta

Fiuuuuh……
Akhirnya bisa juga nyempetin nge-blog diantara waktu gue yang sibuk ini (alaaaah, gayanya!). Aslinya gue itu nggak sibuk-sibuk banget. Cuma bergaya sok sibuk aja. Habis kalau cuma bengong diem di rumah aja malah bikin badan gue nggak enak.

Oh iya, sebelumnya gue mau ngucapin terima kasih buat temen-temen yang ngirim sms, wall, atau testi yang ngucapin selamat ke gue. Makasih banget atas semua perhatiannya. Hehehe… Nggak nyangka deh Si Lupita ini ternyata ada yang perhatian juga.

Ngomong-ngomong soal perhatian, Sius, anjingnya Riska adek gue, sekarang lagi cemburu berat. Gara-gara Riska punya peliharaan baru. Adek sepupu gue itu baru beli dua kura-kura yang dinamain Cassandra dan Vino (alaaaah namanya kok telenovela ama sinetron banget yak?).

Saking cemburunya, Sius selalu masang tampang “anjing pengen makan kura-kura” ketika mendekat ke akuarium mini si Kur-Kur itu. Kalau Riska ngasih makan ke Cassandra ama Vino, Sius langsung ngomel: “Guk, Guk, Guk!”. Terus kalau Riska ngajakin kura-kuranya nonton tivi, pasti Sius langsung lompat ke atas sofa dan duduk di atas pangkuannya Riska sambil ngomel: “Guk, Guk, Guk!”. Belum lagi kalau Riska ngelus-ngelus si Kur-Kur, pasti Sius langsung ambil tempat di dekat akuarium dan bersiap ambil posisi mau ngencingin akuariumnya, lalu Riska pun gantian ngomel: “Haduuuuuuuh, Siuuuuuussss!!! Anjing banget sih kamu ini!!!”




tatapan "anjing pengen makan kura-kura"-nya Sius


Sius memang sangat menyebalkan kalau lagi cemburu buta, tapi Riska sepertinya tidak menyadari kalau Sius memang seekor anjing.

Entahlah, kayaknya seluruh penghuni di rumah itu pada nggak ada yang beres otaknya. Contohnya Yongki. Dia itu paling nggak bisa ditebak pikirannya. Malam minggu kemarin dia bertingkah kayak orang hamil muda. Yongki memang cowok (setau dokter yang membantu kelahirannya dulu sih gitu, tapi gue belum ngecek lagi) tapi kemarin dia menunjukkan tanda-tanda sedang hamil muda. Gara-garanya, tengah malem, waktu gue, Riska ama dia lagi nonton dvd, tiba-tiba dia nyeletuk: “Eh Lupita, aku pengen ngisep buah naga.”

Lalu terjadilah pembicaraan joko sembung bawa gitar antara Yongki dan Riska. Begini pembicaraannya:
Riska: Apa Mas? Bau naga?
Yongki: Bukan bau naga. Kalau itu sih bau jigong kamu. Buah naga, buah naga, aku pengen ngemut buah naga.
Riska: Emang naga itu berbuah, Mas? Bukannya naga itu hewan ya? Harusnya kan bertelur.
Yongki: *empet* AKU PENGEN NGEMUT BUAH NAGA!!!
Gue: Hah?! Apa Keong? Kamu pengen ngemut buah dada? *sambil ketawa ngakak*
Yongki: *emosi tingkat tinggi* MATAMU!!!

Akhirnya karena khawatir anak yang akan dilahirkan Yongki ileran, gue dan Riska pun nganterin Yongki beli jus buah naga di Jombo Jus. Untung aja masih buka kalau enggak pasti ribet banget. Ya ribet. Gimana nggak ribet kalau tengah malem begini kudu nyari-nyari rumah yang nanem buah naga, terus minta ke yang punya rumah, belum lagi kalau dikira maling. Itu semua demi ngidamnya Yongki yang pengen ngemut buah naga.

Begitu pulang dari Jumbo Jus, Riska yang kekenyangan minum segelas gede jus alpukat udah molor di jok depan, sedangkan Yongki seperti biasa lagi asyik ngedengerin lagu ajeb-ajeb sambil joget-joget kayak uler keket (wuih, kalau ini memang keahliannya Yongki. Dia itu kalau nyetir selalu sambil ngedengerin lagu dugem dan badannya ikutan gerak-gerak gitu. Hwakakakakak… gue selalu pengen ngikutin dia ke acaranya MTV yang nayangin kebiasaan orang-orang dalam mobil dengan candid camera. Pasti seru banget).

Karena semua orang udah pada asyik dengan kegiatannya sendiri, maka gue pun nelepon si ehem-ehem buat nemenin gue diantara makhluk-makhluk dari alam kubur ini. Untungnya dia belum molor mengingat saat itu udah hampir jam satu malem. Dan ini adalah sekelumit pembicaraan gue dengan dia.

Si ehem-ehem (SEE): Kok belum tidur? Biasanya jam sembilan malem udah stand by di kasur.
Gue: *ketawa* iya nih, nganterin Yongki. Dia lagi ngidam ngemut buah naga.
SEE: malem-malem gini?
Gue: he-eh.
SEE: terus dapet?
Gue: iya, tadi barusan dari jumbo jus. Untung masih buka.
SEE: sama siapa?
Gue: cuma bertiga. Tambah Riska aja.
SEE: *tiba-tiba ketawa*
Gue: kok ketawa sih?
SEE: keluarga kamu itu lucu-lucu semua ya.
Gue: *agak sewot* lucu? Emang kita badut?
SEE: bukan gitu. Coba kamu pikir deh. Mulai dari Riska yang pengen melihara kura-kura gara-gara mimpi dikasih angpao sama dewa kura-kura, terus Yongki yang malem-malem pengen ngemut buah naga, belum lagi kamu.
Gue: Aku kenapa? Bego? Bolot? Lemot?
SEE: *ketawa ngakak* eh, sori-sori. Bukan. Tapi kamu unik. Karena seumur hidup aku belum pernah ketemu sama cewek yang rela nggak ikut ujian gara-gara sibuk nonton gosip di tivi.
Gue: *kaget* kamu baca bukuku?!
SEE: already twice
Gue: haaaaaaaaaaah!!! Aduuuuuh, kenapa baca sih?
SEE: lho? Kenapa?
Gue: aku kan maluuuuuuu….
SEE: *ketawa lagi* kenapa harus malu?
Gue: siapa yang ngasih tau?
SEE: everybody knows that you are a writer, honey. Bahkan google juga bicara gitu.
Gue: ah, udah ah. Aku ngantuk. Udah ya.
SEE: eh, eh, eh, bentar.
Gue: apa lagi? *sewot karena tengsin tingkat tinggi*
SEE: *ketawa* kamu belum jawab pertanyaan aku.
Gue: pertanyaan yang mana?
SEE: kenapa aku nggak boleh baca bukumu?
Gue: *hening lamaaaaaa*
SEE: you there?
Gue: itu bikin semuanya nggak fair. Hanya dengan buku itu, kamu bisa baca semua masa lalu aku. Tapi sebenarnya bukan masa lalu itu yang aku permasalahin.
SEE: jadi?
Gue: mmm…aku takut kalau kamu berpikir bahwa aku nggak sempurna.
SEE: don’t be afraid. Semua orang punya masa lalu, aku juga, tapi kita akan melangkah untuk masa depan. Masa lalu memang penting untuk panduan agar nggak salah arah. Tapi lebih penting untuk menata masa depan. Jalan kamu masih panjang. Jangan disia-siain.
Gue: *samar-samar denger lagu di mobil udah bernuansa sendu, nggak ajeb-ajeb lagi. Kayaknya sopirnya udah mulai pegel joget-joget terus* Fer?
SEE: hm..
Gue: Kalau kamu berada di posisi aku, apa kamu masih bisa jatuh cinta lagi?
SEE: *kedengeran menghela nafas* Jujur, aku bukan tipe cowok yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin karena aku cowok, aku lebih rasional. Tapi, ya, aku bisa. Seiring berjalannya waktu, aku pasti bisa jatuh cinta lagi. Semua hanya masalah waktu.

Lalu, seperti telah di-setting sedemikian rupa, terdengar suara lantunan musik di mobil yang benar-benar menyadarkan gue…….
“Oh Tuhan tolonglah aku, janganlah Kau biarkan diriku jatuh cinta kepadanyaaaaaaaaa…….”

Kali ini, dari sekian lama aku bersaudara dengan dia, Yongki memutar lagu yang benar.

Kamis, April 02, 2009; 8:06 PM
Welcome to the Graduated Club

Alhamdulilah….berkat doa dan semangat dari temen-temen semuanya, akhirnya si Aluna Panda yang lemot, bego, dan malu-maluin ini LULUS ujian skripsi dan komprehensif. Intinya, sekarang di belakang nama gue tersemat gelar S.E. atau Sarjana Edan. Hwakakakakak….

Bener-bener nggak nyangka deh, gue bisa lulus dengan nilai yang unpredictable kayak gitu. Gue bener-bener bersyukur banget. Padahal aslinya gue itu udah agak-agak parno gitu soal skripsi gue. Karena gue ngangkat topik tentang sistem yang mana harusnya cuma mahasiswa pandai yang sanggup mengerjakannya. Tapi, karena gue bego dan LOLA, dengan bodohnya gue ngambil topik itu.

Tapi ternyata hasilnya bener-bener sangat memuaskan. Mungkin ini semua karena gue banyak menggunakan bahasa sistem waktu presentasi tadi, jadi dosen gue iya-iya aja. Hwakakakak…padahal gue sendiri aslinya juga nggak nyambung tapi asal pede dan nyerocos aja. Atau bahasa gampangnya “sok ngerti”.

Di kesempatan ini juga, gue mau ngucapin terima kasih buat temen-temen gue, baik itu yang asli atau yang maya (lho….kok?). Buat Rina yang tadi udah nemenin sidang dan ikutan tegang juga, makasih udah ditemenin. Buat Anggie yang sering jadi sharing curhat gue dan tadi ikut nemenin gue, megangin badan gue yang gemeteran terus, makasih dear. Juga buat Deang dan Deasy yang nggak bisa dateng tapi tetep memantau dari hape, makasih buat doanya. Terus buat orang-orang yang tadi ada di sekitar gue, ngerumunin gue kayak laler waktu nyalamin gue, makasih udah nungguin Si Lupita ini waktu sidang.

Dan juga, makasih buat Ricky yang nyempetin datang untuk ngeliat gue. Hehehe… makasih udah baik banget ama gue, Rick. Oia, nama kamu aku cantumin di ucapan terima kasih di skripsi looooh (alaaaaah, malah pamer).

Nggak lupa juga buat temen-temen yang sering onlen sama gue. Kayak Aca, Abi Gorilove, Bang Roy “Maling Kolor”, shinichi_09, ryan_uk, juga buat Richard yang bela-belain onlen tadi malem cuma buat nyemangatin gue…huhuhu…thanks dear.

Juga beribu terima kasih buat penghuni Semolowaru. Buat Mbak Lusy, sitter-nya Riska, makasih karena tiap malem mau ngetes gue dengan ngebacain soal-soal kompre. Hehehehe…kalau nggak ada Mbak Lusy, nggak tau deh hari ini dapet nilai apa. Terus juga buat Yongki, Riska, dan Mas Tino yang selalu ngerecokin gue. Yang selalu nagih traktiran buat lulusan. Dan buat semuaaaaaaaanya yang nggak bisa disebutin satu-satu.

Ngomong-ngomong soal skripsi, setelah sidang ini gue punya jadwal janjian yang padet banget (lagaknya kayak artis aja. Sok penting!). Tapi emang bener, jadwal gue udah full. Gara-garanya setiap orang yang ngajakin gue janjian atau pergi pasti gue jawab dengan: “Ntar aja, habis gue sidang skripsi ya.”

Jadinya sekarang, gue ditagih janji ama beberapa orang karena gue sempet nunda janjian. Dan ini adalah beberapa janji yang udah gue list di agenda gue:

Jumat:
Pagi = Ngeberesin kamar gue yang penuh dengan tumpukan sampah (baca: kertas-kertas potokopian latihan komprehensif).
Siang = Ke Plaza Marina ngebenerin smart phone gue yang kena virus dan mati melulu…huhuhu (doain ya moga-moga nggak parah rusaknya).
Sore = Janjian sama Yongki di rumah Eyang karena kemarin Eyang nelpon dan bilang kangen ama gue dan Yongki. Kayaknya sih kita di suruh nginep di sana.

Sabtu:
Pagi = Persiapan ada fogging di perumahan gue. Palingan gue kebagian tugas ngevakuasi Shiro, Tata, ama Sius biar nggak sesak nafas kena asepnya.
Siang = Ada janji ama Mbak Lusy ke ITC. Katanya sih sitternya Riska ini minta traktiran gara-gara bantuin gue belajar (dasar pamrih!)
Malem = Ada traktiran ulang tahun Mas Danny. Palingan makan, terus karaoke di Naff, lalu bilyard ampe malem.




halooo...namaku Precius, tapi aku biasa dipanggil Sius. Setiap lelaki pasti terpesona padaku...huhuhu
(terutama lelaki bernama Yongki yang memang orientasinya pada anjing cewek)






hei, kalau aku Shiro. Aku sangat suka koran. Dimana ada koran, pasti disitu dengan jumawa aku membuang hajatku...hwakakakak...oiya, aku juga hobi tidur beralaskan koran loooh
(emang kucing berjiwa tuna wisma yang hobi tidur beralaskan koran)




Minggu:
Pagi = Nge-print revisi skripsi gue. Uhuy, gue dapet revisinya sedikit. Sekarang aja udah selesai gue revisi semua. hahaha…. Mumpung lagi rajin.
Siang = Riska minta ditemenin ke Galaxy Mall. Mau beli DVD baru.
Malem = Janjian ama Richard. Hwehehehe…



Senin:
Pagi - Sore = Janjian sama temen-temen yang sidang kemarin mau foto buat kelulusan, janjian ama Nova juga soalnya mau ngurus Oriflame, lalu sekalian mampir makan siang di GM dan nonton Dragon Ball.
Malem = Ada janji mau nelpon Mbak Inggrid buat naskah baru.

Selasa:
Pagi = ke kampus sekalian ngajuin revisi ke dosen.
Siang = ngurus tetek bengeknya (ngejilid, potokopi, dll)
Malem = nonton DVD yang kemarin minggu dibeli.

Rabu:
Pagi ampe malem = Palingan ngerevisi naskah The Thieves.

Selanjutnya masih kosong. Ada yang mau bikin janji sama gue?????

PS: Seharian ini gue banyak dapet sms bertubi-tubi ucapan selamat atas kelulusannya. Dan berhubung pulsa gue abis, jadi sebagian ada yang nggak gue balesin. Maaf banget. Tapi terima kasih atas semua doa dan dukungannya. Kalau gue udah isi pulsa, gue balesin deh (kayaknya gue perlu isi pulsa IM3 2000 sms deh)

Sabtu, Maret 07, 2009; 8:29 PM
About Persue My Future

Sekarang gue lagi sering ngikutin blognya Tante Nurma. Tante Nurma sekarang tinggal di Belanda dan punya anak lucuuuuu banget, namanya Davin. Hehehehe….kalau lihat Davin, gue jadi pengen punya anak ke-bule-bule-an kayak gitu. Gemes banget deh pokoknya. Hahahaha…

Nggak tau kenapa, dari dulu gue lebih histeris kalau lihat bayi-bayi bule. Gue lebih gemes, lebih pengen meluk, lebih pengen nyium dan lebih pengen punya. Hwakakakakak… (makanya dari dulu selalu cita-cita pengen kawin sama bule).

Waktu kemarin ngobrol sama Ramon, gue cerita soal anaknya Tante Nurma. Gue bilang ‘aku suka banget sama anaknya, lucu, ngegemesin, dan pengen punya satu’. Tau nggak jawabannya apa? Dia bilang: ya udah, aku bikinin patung lilinnya aja ya. Biar bisa kamu pegang, kamu peluk-peluk.

Ramon emang bule sinting.

Kemarin juga, gue sempat ngobrol sama dia soal masa depan gue. Eits, bukan masalah pernikahan ya! Bukaaaaan….bukan itu. Tapi rencana setelah gue lulus nanti. Sebenernya sih gue pengen ngelanjutin master. Pertimbangan gue adalah dituntasin aja semua sekolahnya biar nggak ada tanggungan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, high cost juga kalau sekarang ngelanjutin master. Bukan apa-apa, gue pengen ngelanjutin master pakai duit gue sendiri. Memang orang tua gue mampu ngebayarin kuliah gue sampai S3 tapi gue lebih puas aja kalau sekolah pakai duit sendiri. Hehehehe… gaya banget!

Jadi gue pengen kerja dulu, nulis-nulis buku lagi, ngisi kolom majalah, pokoknya nyari duit buat sekolah master gue nanti.

Tapi kemarin Ramon sempet ngasih beberapa tawaran ke gue. Satu yang paling menarik adalah ngelanjutin master di Austria. Dia bilang ada beberapa universitas di sana yang menyediakan program beasiswa dan lebih enaknya lagi, mungkin dia bisa ngebantuin ngurusin tetek bengeknya soalnya sekarang dia ada di sana.

Bener-bener tawaran yang sangat menarik. Gue udah senyum-senyum aja seharian kayak orang gila begitu dikasih informasi kayak begitu. Tapi begitu gue kasih tau ke bokap, langsung ada ultimatum: GAK BISA! AUSTRIA?! JAUH BENER?! KENAPA NGGAK DI PLUTO SEKALIAN AJA?!

Yaaaah, sebenernya bokap gue nggak pernah ke Pluto. Bokap gue cuma nggak comfort ngelepasin gue ke Austria sedangkan di negara itu ada pacar bule anak perempuannya yang jadi musuh bebuyutannya dari dulu. Hwakakakakak… iya, nggak tau kenapa, bokap gue agak sensi kalau gue nyinggung-nyinggung soal Ramon. Mungkin cemburu soalnya anak perempuan satu-satunya telah membagi cintanya kepada pria lain. Hahahaha….


Ini bisa gue liat kalau gue jadi berangkat ke Austria...hoho..pengeeeen...

Opsi lain adalah magang di sana, di Austria. Kebetulan kemarin EF nawarin gue program magang ke luar negeri. Untuk negaranya bebas memilih. Awalnya gue pengen banget ke Florida tapi setelah dipikir-pikir (sebenernya sih karena ada Ramon), gue lebih tertarik ke pilihan di Austria. Tapi lagi-lagi, mata gue melotot ketika disodorin biaya untuk magang disana: Rp. 68.000.000,00. Belum termasuk fiskal, biaya hidup, dll. Itu cuma untuk administrasi di sono. Huiiiiiik! Gue sampai ngitung angka nolnya berkali-kali. Banyak ya ternyata.

Terus, gue ngomong ke Ramon dan dia bilang itu terlalu mahal untuk ukuran magang di Austria. Bahkan kadang-kadang justru kitalah yang digaji. Jadi, gue batalin acara magang di LN.

Pada akhir pembicaraan tentang masa depan gue, akhirnya Ramon memberi satu usulan paliiiiiing menarik. Kasih tau gak ya? Mmm…kayaknya buat yang ini biar jadi rahasia kami aja deh. Soalnya kemungkinan usulan ini terlaksana lebih gampang dan masuk akal. Hwakakakak…

And then… kadang, kalau suatu hubungan dijalani dengan mengalir apa adanya. Tidak ada tenggat, target, tidak muluk-muluk, justru akan terasa lebih berprospek.

Iya kan, Sayang?

Kamis, Maret 05, 2009; 8:18 PM
Meet Another Ricky in Dante Coffee Shop

Akhir-akhir ini gue sering banget ngopi di Dante Coffee Shop di Galaxy Mall. Awalnya sih Yongki yang ngasih rekomendasi. Soalnya biasanya gue sama sodara-sodara gue ngumpul di Galaxy Mall kalau nggak di J.CO ya di Gelato Bar. Atau kalau emang lagi bokek, ujung-ujungnya makan di food court.


cozzy place...thats Dante Coffee Shop ;p

Kemarin, pas jadi obat nyamuk sodara gue yang nge-date di GM, gue akhirnya mutusin buat nunggu mereka nonton di Dante. Soalnya jengah juga kalau ikut mereka yang lagi pacaran sambil bergelap-gelap ria di bioskop. Bukan kambing congek lagi namanya, tapi dinosaurus congek. Yaaaa…resiko yang punya cowok di seberang lautan.

Setelah pisah, gue langsung nenteng-nenteng laptop sambil kerepotan jalan pakai high heels. Hwakakakak… iya, sekarang kata sodara-sodara gue, gue berubah jadi kegenitan. Suka dandan, pakai high heels, dan jarang banget pakai t-shirt kecuali buat tidur. Ya, namanya juga nambah dewasa, lagi pula, itu juga sebagai usaha pemasaran. Biar dapet ngegaet pangeran-pangeran cakep. Hihihi….

Setelah perjuangan panjang jalan pakai high heels dan ngebenerin curly rambut gue (eh, ternyata bener kata sodara-sodara gue kalau sekarang gue doyan dandan. Buktinya, kalau dulu gue ke GM waktu siap-siap cuma butuh waktu 5 menit, sekarang 1 jam. Kok lama? Iya, soalnya nyatok rambutnya lama. Hwakakakak…). Akhirnya gue duduk juga di sofa Dante. Begitu duduk, gue langsung buka laptop, cari colokan, dan nyolokin kabel (soalnya baterai laptop gue ngedrop terus). Begitu laptop nyala, gue langsung celingukan cari waitress-nya. Naaaaaaah…naaaaah, saat gue ngedarin pandangan itulah, mata gue menangkap sebuah aura pesona aneh. Saking kuatnya, gue nggak bisa ngelepasin pandang dari sumber aura itu berpendar.

Udah deh, kalau kayak gini emang ALUNA banget. Nggak bisa tenang kalau lihat cowok cakep dan saat itu gue emang tengah memergoki ada seorang cowok cakep duduk tak jauh dari meja gue. Dia duduk menghadap gue diantara tiga temannya yang lain. Alamaaaaaak! Gue ampe mangap! Saking terpesonanya, gue ampe nggak sadar kalau udah dikasih menu sama waitress-nya.

Otomatis, semenjak saat itu gue nggak bisa konsen sama kerjaan gue. Pikiran gue buntet dan pengennya noleh terus ke arah cowok itu. Hwakakakak…dasar. Dan nggak tau apa itu adalah sifat dasar gue, apakah sifat alami gue, begitu cowok itu nggak sengaja natap gue, dan kami berdua saling bertatapan, gue menunjukkan ekspresi syok (gue emang nggak pinter menyembunyikan ekspresi keterkejutan). Yang lebih memalukan adalah setelah cowok itu natap gue, gue otomatis benahin rambut, ngegulung-gulung pakai jari gue, ngebenerin posisi baju gue biar nggak kusut, dan berusaha duduk semenarik mungkin (nyilangin kaki kanan diatas kaki kiri). Pokoknya kayak foto model mau difoto gitu deh. Begitu pun waktu gue nyeruput cappuccino pesenan gue, kalau biasanya langsung nyeruput kayak kuda, sekarang dibenahin ala John Robert Power.

Karena laptop useless, Ramon juga lagi kerja jadi nggak bisa online, gue akhirnya matiin laptop gue. Masih ada satu jam lagi sebelum sodara gue selesai nonton, jadi gue ngeluarin buku buat baca-baca. Kebetulan gue belum nyelesaiin Dearly Devoted Dexter, jadi buku itu gue bawa-bawa siapa tau ada kejadiaan tak terduga seperti ini yang mengharuskan gue harus melakukan sesuatu.

Begitu gue baca buku itu gue udah lupa sama lingkungan. Itu emang kebiasaan gue. Gue kalau baca memang seperti terputus dari dunia luar dan rasanya tubuh gue menyatu dengan bukunya. Makanya waktu ada suara kursi di tarik di sebelah gue, gue baru ngedongak, dan ngirain itu Yongki.

Hampir aja gue nyeletuk: Lho? Keong? Kok cepet?, ketika suara gue tiba-tiba menghilang karena melihat siapa yang duduk di sebelah gue.

COWOK GANTENG ITUUUUUUUUUUUU!!!!!

Dia senyumin gue, lalu bilang: Boleh duduk di sini nggak? Kata temen-temenku, dari tadi kamu ngeliatin aku terus.

Dan apa yang gue lakukan: GUE GAGAP!!! GUE MANGAP!! GUE KAGET!!

Perlahan, gue pun bisa menguasai situasi. Otak gue mulai kerja dan berpikir: saatnya tebar pesona.

Gue bales senyumin dia terus bilang: Masak sih?

Dia bales sambil noleh ke arah teman-temannya dan mereka lagi ngeliatin kami, ada yang ketawa juga: iya.

Gue pun cari alesan: Iya, soalnya wajah kamu mirip temen aku. Aku kira tadi kamu dia tapi ternyata bukan (hahahahaha….alasan nggak mutu dan standart).

Terus dia nunjuk ke buku gue: Kamu suka DEXTER? Kalau aku suka banget makanya waktu lihat kamu baca bukunya, aku langsung kaget. Ternyata ada bukunya ya? Aku pikir cuma ada serialnya aja.

Lalu mulai gue jelasin: Iya, justru awalnya DEXTER itu lahir dari novel. Judulnya Darkly Dreaming Dexter tahun 2005. Yang nulis Jeff Lindsay, dia juga ngebantu nulis skenario serialnya.

Dia tampak tertarik banget sambil bilang: Jadi ini novelnya ya?

Gue menggeleng terus gue kasih novel itu ke dia karena dia mau lihat: Iya, ini novelnya tapi ini sekuelnya. Ini Dearly Devoted Dexter. Ini yang terjemahan. Kalau yang terjemahan masih ada dua yang terbit. Tapi kalau menurut aku sih, Dexter di buku dan di serial agak beda.

Sambil ngebuka-buka halaman buku, dia nanya: Kenapa? Di serial nggak detail ya? Nggak kayak di buku?

Gue natap dia dan bertanya-tanya, kenapa cowok ini cakep banget dilihat dari jauh maupun deket (hwakakakak): Kalau detail sih detail. Menurut aku Dexter di buku lebih humoris daripada yang Michael C. Hall mainin. Lebih lucu. Kamu lihat sendiri, kan, kalau di serial Dexter selalu banyak pikiran dan bingung melulu?

Dia ketawa: Aku nggak merhatiin sejauh itu. Dexter memang bagus. Karakternya unik. Orang jahat tapi diceritakan dari sudut pandang pahlawan.

Gue ikut ketawa: Berkat Jeff Lindsay.

Dia berhenti ketawa: Jadi, nama kamu siapa?

Gue ngulurin tangan: Aluna

Dia menjabat tangan gue: Ricky

What? Siapa tadi dia bilang namanya? Ricky? Dari banyak kemungkinan? Dari semua probabilitas yang mungkin muncul kenapa namanya harus RICKY? Dan kenapa harus sama-sama ganteng??!

Akhir dari pembicaraan itu, tidak semenarik di bagian awalnya. Ricky tiba-tiba dapat telepon, mungkin dari ceweknya soalnya dia langsung cabut begitu mau ngejawab telponnya dan Yongki langsung muncul begitu Ricky duduk kembali ke tempatnya.

Setelah Yongki menghabiskan sisa cappuccino dan crème black volcano’s gue, kami langsung cabut dari Dante. Ricky sempat senyumin gue waktu gue melewati mejanya.

Yeah, unhappy ending.

Mungkin ini pertanda jika saatnya untuk SETIA!!!

Hwakakakak……….



Minggu, Maret 01, 2009; 8:17 PM
Campur-Campur

Bener-bener lama absen dari dunia ngeblog. Kangeeeen. Akhir-akhir ini aku memang jarang ngetik soalnya lagi fokus ke sidang skripsi. Seperti diketahui bersama kalau aku kuliah di jurusan akuntansi dimana waktu sidang skripsi tidak hanya skripsinya saja yang diuji tapi juga komperhensifnya. Artinya, selama sebulan ini aku harus ngereview materi kuliah mulai semester satu ampe semester tujuh kemarin. Dan itu bener-bener pekerjaan yang sangat susah dilakukan apalagi untuk otak pemalas seperti aku. LOL

Tapi jangan dikira aku tiap hari serius buka-buka buku, karena, lagi-lagi, seperti yang bisa ditebak bahwa buku pelajaran merupakan musuh bebuyutanku. Kayak alergi pribadi buat aku. Jadi setengah jam aja aku baca buku, langsung deh ngulet-ngulet gak jelas dan berakhir di TiVo.

Barusan aja aku nonton TITANIC. Oke, silakan bilang aku kampungan karena masih aja nonton film jadul kayak begitu. Honestly, yah, aku memang kampungan banget karena walaupun udah berkali-kali nonton titanic tetep aja nangis kayak habis ditinggal orang mati.

Ya, aku memang cengeng apalagi buat film-film yang bagus. Bagus di sini bukan berarti bagus karena dapat penghargaan tapi bagus buat standart aku. Contohnya aja waktu nonton Bourne Identity, aku nangis. Yup, aku nangis, tapi bukan karena adegannya yang brutal tapi karena filmnya keren banget. Bayangin aja, Bourne Identity itu dibikin menggunakan single camera dan menghasilkan tampilan yang luar biasa. Pergerakannya. Ketelitiannya. Editingnya. Wuih, sip pokoknya.

Terus terang, waktu kemarin aku nonton Slumdog yang baru aja dapat Oscar, aku malah bingung nontonnya. Nggak nyambung. Dan akhirnya nggak aku lanjutin karena bosen. Aku jadi bingung, dimana letak keartistikannya sampai-sampai bisa dapat Oscar. Okelah, mungkin aku memang bukan seniman jadi nggak bisa menyamai level berpikir para juri. LOL

Ngomong-ngomong soal film-film Indonesia, aku rasa udah cukup bagus dibanding Malaysia atau Thailand. Apalagi film Laskar Pelangi kemarin yang sukses bikin aku nangis di lima menit pertama (dan ini mecahin rekor nangis tercepatku). Sumpah, keren banget dan ternyata Mas Salman Aristo yang nulis skenarionya. Ya, nggak heran lah. Aku kagum sama film-film yang ditulis Mas Salman, pasti keren. Tapi terus terang, nggak banyak film Indonesia yang bikin aku terkesan. Mungkin cuma satu atau dua yang bener-bener memorable.

Apalagi kalau udah ada hubungannya dengan teman-teman di alam kubur. Apalagi filmnya Dewi Persik. Wuih, serem banget! Sumpah! Tapi bukan nyeremin karena hantunya tapi serem ngeliat bajunya Dewi Persik. Hwakakakakak…(ini adalah komentar kebanyakan temen-temen aku).

Masih tentang film, aku sekarang lagi demen ngikutin ER di Hallmark. No comment. Kalau aja aku nonton serial ini pas SMA dulu, pasti sekarang aku kuliah di kedokteran. Hwakakakak…. Serialnya keren mampus. Padahal aku ngikutin season 3 nya yang dulu ditayangin sekitar tahun 1998 tapi tetep aja keren walaupun sekarang gue nontonnya 11 tahun kemudian.

Lalu, aku masih ngikutin CSI Miami dan CSI, nggak tau kenapa, aku nggak terlalu suka dengan CSI NY. Tambahan serial lain adalah Burn Notice dan Kill Point.

Haduuuuh, lihat aja deh, dengan banyaknya daftar serial yang aku tonton setiap harinya, gimana sempet belajar??? Mungkin cara efektif adalah ngejual TiVo-ku biar aku bisa konsen belajar. Hwakakakak…

Oh iya, kemarin aku juga sempet ngeborong buku-buku (padahal buku yang terakhir aku beli masih tersegel dan belum dijamah. Hehehe…). Kemarin aku beli Dearly Devoted Dexter (sekuelnya Darkly Dreaming Dexter), trus To Kill A Mockingbird (buku ini sempet dibicarain di film Failure to Lunch-nya Sarah Jessica Parker), I’m Watching U-nya Karen Rose, dan yang terakhir adalah Stardust (yang ini udah ada filmnya yang dibintangin….mmm…namanya lupa…pokoknya yang meranin Julietnya Leonardo DiCaprio).

Kayaknya aku udah mulai pusing nih, mau tidur siang dulu. Bubye… doain aku bisa belajar giat ya…hehehe…

PS: sekarang aku gak pakai iPhone lagi. Aku balik ke W890i lagi soalnya dengan banyaknya rutinitasku yang mengkoneksi internet, aku takut iPhone-nya kena virus jadi untuk sementara harus dihibahkan dulu. Hehehe….

The Webmistress
Behind The Scenes
Profile

aLuNa SoeNarTo

22 female

Surabaya, East Java, Indonesia

Accounting 2005, Airlangga University





Aluna Masterpiece
Buku-buku karya gue
First Book



kalau pengen tau cuplikan ceritanya



Dear God, get these for me!
Cravings

Mr. Right
Happiness!
Popular writer as JK Rowling
panjang umuuuur dan tetep cantik...;D


The Chatterbox
Tag! You're it! :D
Silahkan Bergosip Disini





The Crews
Yang pernah diceritain di sini
Si Lupita dan Si Abooooon



Linkies
The Sweet Escape
My Little LoveMates~ ;D



My Plurk
Sekarang Aluna Lagi Ngapain
cek it out!



Blog Traffic
Siapa aja yang udah ngejejakin kaki di sini
Tradaaaaaaa.....




Archieves
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
November 2007
Desember 2007
Januari 2008
Februari 2008
Maret 2008
April 2008
Mei 2008
Juni 2008
Juli 2008
Agustus 2008
September 2008
Oktober 2008
November 2008
Desember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
April 2009
Mei 2009
Juni 2009


Credit
Thank You!

Designer: Yours Truly♥
Icons: I II III IV V
Others: 1 2
Hosts: x x x